<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pencinta Sedekah</title>
	<atom:link href="http://www.pencintasedekah.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.pencintasedekah.com</link>
	<description>Berbagi terhadap sesama</description>
	<lastBuildDate>Fri, 06 Apr 2012 01:56:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.2</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Bertanding Dengan Diri Sendiri</title>
		<link>http://www.pencintasedekah.com/2012/04/bertanding/</link>
		<comments>http://www.pencintasedekah.com/2012/04/bertanding/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Apr 2012 01:46:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Sedekah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pencintasedekah.com/?p=607</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Dalam bisnis, kompetisi sesungguhnya bukanlah antara kamu dengan orang lain.. Melainkan pertandingan antara kamu dengan dirimu yang kemarin&#8221; Begitu sebuah nasihat dari mentor yang sering terngiang di telinga PS. Menurutnya, kita jangan terfokus pada apa yang telah dicapai oleh orang lain dalam bisnisnya. Terinspirasi boleh, tapi jangan berusaha untuk menyaingi.. Mungkin sekilas seperti termotivasi, tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.pencintasedekah.com/2012/04/bertanding/kompetisi/" rel="attachment wp-att-608"><img src="http://www.pencintasedekah.com/wp-content/uploads/2012/04/kompetisi.jpg" alt="" title="kompetisi" width="290" height="205" class="alignleft size-full wp-image-608" /></a></p>
<p>&#8220;Dalam bisnis, kompetisi sesungguhnya bukanlah antara kamu dengan orang lain.. Melainkan pertandingan antara kamu dengan dirimu yang kemarin&#8221; Begitu sebuah nasihat dari mentor yang sering terngiang di telinga PS.<span id="more-607"></span></p>
<p>Menurutnya, kita jangan terfokus pada apa yang telah dicapai oleh orang lain dalam bisnisnya. Terinspirasi boleh, tapi jangan berusaha untuk menyaingi.. Mungkin sekilas seperti termotivasi, tapi energi yang ditimbulkan dalam kompetisi seperti itu bukanlah energi yang positif.</p>
<p>Dalam bahasa yang sedikit berbeda, mentor lain PS juga pernah mengatakan : &#8220;Keadaanmu sewaktu memulai, mungkin berbeda dengan misalnya Sandiaga Uno, jadi jangan bersaing dengan beliau.. bersainglah dengan dengan pencapaianmu hari kemarin. Meskipun mungkin hasilnya suatu saat kelak pencapaianmu justru melebihi Sandiaga Uno&#8221;.</p>
<p>Tidak hanya dalam bisnis sebenarnya.. Dalam kehidupanpun ketika kita bersaing dengan orang lain, biasanya yang muncul adalah rasa iri, bahkan dengki dengan apa yang dicapai orang lain. Bahkan tak jarang ketika teman kita mendapat sebuah pencapaian, kita menjauhinya hanya karena kita merasa tidak mampu mendapatkan apa yang dia raih.</p>
<p>Bersainglah hanya dengan diri sendiri. Bersaing untuk memperbaiki kelemahan dan keburukan yang ada dalam diri kita sendiri.</p>
<p>Ada sebuah ungkapan yang mengatakan ; Jika hari ini kita lebih buruk dari hari kemarin, maka kita termasuk orang celaka. Jika sama saja, maka kita termasuk orang yang merugi.. Tapi hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka kita termasuk orang yang beruntung.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pencintasedekah.com/2012/04/bertanding/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Manusia, Tuhan dan Buah Rambutan</title>
		<link>http://www.pencintasedekah.com/2012/03/manusia-tuhan-dan-buah-rambutan/</link>
		<comments>http://www.pencintasedekah.com/2012/03/manusia-tuhan-dan-buah-rambutan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Mar 2012 03:17:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Sedekah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pencintasedekah.com/?p=600</guid>
		<description><![CDATA[Seorang lelaki duduk lesu dibawah sebatang pohon rambutan. Pikirannya kusut meratapi nasibnya yang miskin sengsara.. Dia merasa Tuhan sungguh tidak adil dan nasib tidak berpihak padanya Semakin panjang angannya menerawang, semakin dia dapatkan pembenaran-pembenaran logikanya bahwa Tuhan itu sungguh tidak adil &#8220;Lihat saja pohon rambutan ini.. meski batangnya besar dan kokoh, tapi buahnya kecil- kecil..&#8221; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.visualphotos.com/photo/2x4527833/overhead_view_of_boy_reading_under_tree_bld009309.jpg" alt="pencinta-sedekah" /></p>
<p>Seorang lelaki duduk lesu dibawah sebatang pohon rambutan. Pikirannya kusut meratapi nasibnya yang miskin sengsara.. Dia merasa Tuhan sungguh tidak adil dan nasib tidak berpihak padanya</p>
<p>Semakin panjang angannya menerawang, semakin dia dapatkan pembenaran-pembenaran logikanya bahwa Tuhan itu sungguh tidak adil</p>
<p>&#8220;Lihat saja pohon rambutan ini.. meski batangnya besar dan kokoh, tapi buahnya kecil- kecil..&#8221; Sementara dia lihat Labu dan Semangka, buahnya besar meskipun batangnya kecil dan merambat.<span id="more-600"></span></p>
<p>Tiba- tiba lamunannya buyar ketika sebuah rambutan yang tiba tiba jatuh menimpa kepalanya..</p>
<p>&#8220;aduh, ternyata Tuhan memang sungguh Maha Adil..&#8221; Jika saja tadi yang menimpa kepalanya adalah buah semangka, tentu ceritanya akan jadi berbeda&#8221;</p>
<p>Hehehe, cerita ini mungkin hanya rekaan.. Tapi terlepas benar atau tidaknya, jujur kita akui bahwa kita sebagai manusia sering memprotes dan mengeluhkan kejadian yang menimpa kita.. Seolah-olah kita adalah makhluk terhalang di dunia ketika sedikit saja Tuhan &#8220;mencubit&#8221; dengan kejadian yang tidak kita senangi..</p>
<p>Padahal, kalau dipikir pikir lagi, sudah berapa banyak kejadian yang awalnya kita keluhkan, justru belakangan kita syukuri sebagai sebuah pembelajaran?</p>
<p>Betapa banyaknya doa yang dulunya tidak dikabulkan Tuhan, justru saat ini kita syukuri atas ketidakterkabulannya.. Misalnya;</p>
<p>-Kalau waktu itu doa kita bermitra dengan seseorang dikabulkan, mungkin saat ini kita sudah menderita kerugian karena ternyata dia penipu</p>
<p>- kalau waktu itu doa kita dijodohkan dengan dia dikabulkan, tentu saat ini kita sudah menderita karena dia ternyata suka selingkuh</p>
<p>Dan lain lain</p>
<p>Manusia memang suka berkeluh kesah ketika diberi ujian.. Tapi ingatlah.. Dia yang &#8220;mencubit&#8221;mu dengan sedikit ujian saat ini adalah Dia yang selama ini membasahimu dengan lautan kasih sayang dan rahmat-Nya</p>
<p><em>Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya,dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu,bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta) </em> <strong>(QS.70:19-25)</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pencintasedekah.com/2012/03/manusia-tuhan-dan-buah-rambutan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Percaya Janji Allah atau Janji syetan?</title>
		<link>http://www.pencintasedekah.com/2012/03/percaya-janji-allah-atau-janji-syetan/</link>
		<comments>http://www.pencintasedekah.com/2012/03/percaya-janji-allah-atau-janji-syetan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Mar 2012 02:59:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Sedekah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pencintasedekah.com/?p=590</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Saya nggak pernah mau memberi pinjaman kalau ada yang datang berhutang..&#8221; kata guru saya. Menurutnya, kalau dia meminjamkan uang, bisa jadi uang itu tidak pernah dikembalikan lagi kepadanya. Kalaupun misalnya dikembalikan, tetap saja uang kembali itu hanya sejumlah uang yang dia pinjamkan. &#8220;Beda dengan sedekah. Kalau saya memberi sedekah, minimal akan dikembalikan 10x lipat, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTaL5tdtcfAdeQlYu7FcEsYiPqDUH-_8jKRoohpPQfGH3LCZ0G7rq1ra07pVg" alt="sedekah" /></p>
<p>&#8220;Saya nggak pernah mau memberi pinjaman kalau ada yang datang berhutang..&#8221; kata guru saya.</p>
<p>Menurutnya, kalau dia meminjamkan uang, bisa jadi uang itu tidak pernah dikembalikan lagi kepadanya. Kalaupun misalnya dikembalikan, tetap saja uang kembali itu hanya sejumlah uang yang dia pinjamkan.</p>
<p>&#8220;Beda dengan sedekah. Kalau saya memberi sedekah, minimal akan dikembalikan 10x lipat, dan itu sudah dijanjikan Tuhan dalam Kitab Suci. Jadi daripada dia minjam sama saya, lebih baik saya beri saja dia uang sesuai kebutuhannya dan saya anggap sedekah saja&#8221; sambungnya enteng.<span id="more-590"></span></p>
<p>Saya hanya bisa tertawa geli mendengar alasannya.. Sekilas seperti bercanda. Tapi saya tahu betul karakter guru saya itu. Dia memang gemar memberi sedekah.. Bahkan dia punya cita- cita memberangkatkan orang lain pergi berhaji sebanyak 100 orang, dan sebagiannya sudah berhasil dia berangkatkan.</p>
<p>Begitulah, kalau sifat dermawan sudah menjadi karakter atau kebiasaan&#8230; Buat kita yang baru- baru belajar sedekah, pasti deh banyak mikirnya.. Mau sedekah yang agak gede aja pakai mikir berulang kali.. Trus saking kebanyakan mikirnya, sedekahnya nggak jadi.</p>
<p>Hal lain yang membuat kita berat untuk bersedekah itu selaras dengan keyakinan kita akan janji-Nya. Coba kita perhatikan poin dibawah ini.</p>
<p>- Tuhan berjanji ; &#8220;Menikahlah! jika miskin, Aku yang akan mengayakan&#8221;.. Yakinkah kita? Kalau yakin, pasti kita buru- buru nikah</p>
<p>- Tuhan berjanji ; &#8220;Sedekahlah (beri nafkahlah) maka Aku akan memberi nafkah kepadamu.&#8221; Yakinkah kita? Kalau yakin, pasti kita buru- buru sedekah</p>
<p>Mari sejenak kita renungkan dari ayat ini kenapa kita masih kikir? </p>
<p><em>Hai orang-orang yang beriman,<strong> nafkahkanlah</strong> (di jalan allah)<strong> sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik</strong> dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu.<strong> Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya</strong>, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. </p>
<p><strong>Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir)</strong>; sedang <strong>Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia</strong>. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui. ( Al Baqarah 267- 268)</em></p>
<p>Jadi, kita percaya janji Allah atau janji syaitan? <img src='http://www.pencintasedekah.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pencintasedekah.com/2012/03/percaya-janji-allah-atau-janji-syetan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pay It Forward</title>
		<link>http://www.pencintasedekah.com/2012/02/pay-it-forward/</link>
		<comments>http://www.pencintasedekah.com/2012/02/pay-it-forward/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Feb 2012 00:53:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Sedekah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pencintasedekah.com/?p=582</guid>
		<description><![CDATA[Ah, baru sadar udah lama banget nggak nulis disini.. Udah hampir 2 bulan Untung saja web ini tidak dipenuhi laba- laba Terus terang, selain kesibukan mencari nafkah, PS juga lagi fokus memperbanyak followers di twitter.. itu membutuhkan energi yang nggak sedikit ternyata. Kita harus konsisten ngetweet dan nyari bahan. Tapi harganya terbayar sudah. Dari tanggal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="https://www.addalinkofcharm.com/media/catalog/product/cache/1/image/265x265/17f82f742ffe127f42dca9de82fb58b1/p/a/pay_it_forward_3.jpg" alt="pay it forward" /></p>
<p>Ah, baru sadar udah lama banget nggak nulis disini.. Udah hampir 2 bulan</p>
<p>Untung saja web ini tidak dipenuhi laba- laba <img src='http://www.pencintasedekah.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Terus terang, selain kesibukan mencari nafkah, PS juga lagi fokus memperbanyak followers di twitter.. itu membutuhkan energi yang nggak sedikit ternyata.</p>
<p>Kita harus konsisten ngetweet dan nyari bahan.</p>
<p>Tapi harganya terbayar sudah. Dari tanggal 14 Desember sampai tanggal 14 Februari, Followers PS nambah dari 42.000 menjadi hampir 61.000.<span id="more-582"></span></p>
<p>Itu artinya hampir 50% followers nambah hanya dalam waktu 2 bulan! Belum lagi di <a href="http://facebook.com/pencintasedekah">Page FB PS</a>, udah sekitar 207.000 orang yang bergabung disana.</p>
<p>Ngomong&#8211;ngomong, segitu pentingnyakah jumlah followers?</p>
<p>Hmm.. anda pernah nonton film Pay It Forward? <img src='http://www.pencintasedekah.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Film keluarga menceritakan tentang bagaimana seorang anak berbuat baik, dan meminta balasannya kepada orang tersebut supaya berbuat kebaikan untuk minimal 3 (tiga) orang yang lain. Begitu terus menerus seperti gambar diatas.</p>
<p>Lalu, apa hubungannya dengan followers &#038; fans di FB? Tentu saja ada. Semakin banyak orang terlibat dalam sebuah kebaikan, tentu potensi kebaikan yang akan diciptakannya juga jauh lebih besar.</p>
<p>Misalnya. Dari 61.000 followers tadi PS membuat sebuah tweet :</p>
<p>&#8220;Yuk hari ini kita sedekah minimal masing2 kita Rp.100.000,- kepada orang terdekat yang membutuhkan&#8221;<br />
ada 10% dari followers yang baca tweet itu, berarti 6.100 orang<br />
ada 10% dari situ yang tertarik ikut berarti 610 orang<br />
ada 10% dari situ yang benar2 action memberikan, berarti akan ada 61 orang yang bersedekah pada saat itu<br />
akan ada 61 keluarga miskin yang dapat makan seharian pada saat itu.</p>
<p>Bayangkan.. Itulah kekuatan sebuah komunitas di social media</p>
<p>Sekarang, anda hanya akan mempergunakan twitter untuk ngetweet galau atau kebaikan?</p>
<p><em>Dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula) karena Allah akan memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (QS.9 :121 )</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pencintasedekah.com/2012/02/pay-it-forward/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Yang Kita Rayakan?</title>
		<link>http://www.pencintasedekah.com/2012/01/574/</link>
		<comments>http://www.pencintasedekah.com/2012/01/574/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Jan 2012 01:09:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Sedekah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pencintasedekah.com/?p=574</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah pesan broadcast masuk melalui BlackBerry Messenger PS ; Anakku, jangan marah jika bunda tidak membelikanmu TEROMPET karena itu ala YAHUDI Jangan sedih jika bunda tidak membelikanmu lonceng-loncengan karena itu ala orang NASHRANI. Jangan pula engkau murung karena bunda tidak belikan kembang api karena itu menyerupai MAJUSI dan janganlah kecewa jika bunda tidak membawamu di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.icis.com/blogs/icis-chemicals-confidential/files/2011/12/27/Happy%20New%20Year%202012.jpg" alt="ny" /></p>
<p>Sebuah pesan broadcast masuk melalui BlackBerry Messenger PS ;</p>
<p><em>Anakku, jangan marah jika bunda tidak membelikanmu TEROMPET karena itu ala YAHUDI<br />
Jangan sedih jika bunda tidak membelikanmu lonceng-loncengan karena itu ala orang NASHRANI.<br />
Jangan pula engkau murung karena bunda tidak belikan kembang api  karena itu menyerupai MAJUSI<br />
dan janganlah kecewa jika bunda tidak membawamu di keramaian tahun baru, karena itu hari-hari besar dan BERTASYABUH terhadap musuh-musuh Allah!!</em><span id="more-574"></span></p>
<p><em>Apakah engkau rela jika bunda dilemparkan ke dlm neraka, karena bunda tidak mendidikmu diatas ISLAM?</p>
<p>Banggalah wahai anakku, bersyukurlah wahai buah hatiku, karena ALLAH telah mentakdirkan kita hidup diatas agama ISLAM, agamanya seluruh para NABI DAN RASUL!</em></p>
<p><em>Berbahagialah wahai permataku! Di dalam KETERASINGAN kita akan tetap bertahan &#8230; Wallahul musta&#8217;an.</p>
<p>&#8220;Mari kita biasakan dikeluarga kita untuk lebih membanggakan Tahun Baru Islam, itupun tanpa perayaan apapun karena Rasulullah tidak pernah melakukannya.</em></p>
<p><strong>Sengaja pesan ini tidak saya ubah dan tetap ditampilkan dalam tulisan aslinya. </strong></p>
<p>Terlepas dari setuju atau tidaknya anda pada tulisan diatas, kemeriahan dan kehebohan menyambut pergantian tahun memang sudah menjadi &#8216;tradisi&#8217; di seluruh dunia termasuk di Indonesia.</p>
<p>Tapi apakah kita benar- benar tahu apa yang sesungguhnya sedang kita rayakan?</p>
<p>Bukankah sebuah pergantian tahun berarti menandakan 365 hari dari momen tahun sebelumnya telah kita lewati?<br />
Apa saja yang telah kita lakukan selama itu?<br />
Apakah sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain?<br />
Atau malah sepanjang tahun itu hanya merugikan dan menyusahkan orang lain?<br />
Atau yang lebih buruk ; Adanya atau tak adanya kita tidak memberi pengaruh apapun bagi orang sekitar kita.</p>
<p>Kalau sepanjang tahun ini tidak ada sesuatupun yang bisa kita banggakan, lalu untuk apa pesta pora, tiup terompet dan membakar petasan itu?</p>
<p>Bukankah lebih bagus pada pergantian tahun ini kita jadikan sebagai momentum perubahan menjadi pribadi yang lebih baik? </p>
<p>Tapi apapun itu, semua kembali kepada keputusan kita masing &#8211; masing <img src='http://www.pencintasedekah.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pencintasedekah.com/2012/01/574/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bapak Tua Penjual Amplop</title>
		<link>http://www.pencintasedekah.com/2011/12/bapak-tua-penjual-amplop/</link>
		<comments>http://www.pencintasedekah.com/2011/12/bapak-tua-penjual-amplop/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Dec 2011 10:52:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Sedekah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pencintasedekah.com/?p=570</guid>
		<description><![CDATA[Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat, saya selalu melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s320x320/387937_285016938201924_103134439723509_702217_438393590_n.jpg" alt="img" /></p>
<p>Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat, saya selalu melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik.</p>
<p>Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya.</p>
<p>Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun bapak itu tetap menjual amplop.<span id="more-570"></span></p>
<p>Mungkin bapak itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat. Kehadiran bapak tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba.</p>
<p>Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran bapak tua itu. Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat bapak tua itu lagi sedang duduk terpekur.</p>
<p>Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu bapak itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri bapak tadi.</p>
<p>Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkusa plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya.</p>
<p>Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi bapak tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya. Bapak itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak.</p>
<p>Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak. Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu.</p>
<p>Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop.</p>
<p>Bapak itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500. “Bapak cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu.</p>
<p>Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si bapak tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, bapak tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan.</p>
<p>Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi. Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor.</p>
<p>Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat bapak tua itu untuk membeli makan siang. Si bapak tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata.</p>
<p>Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di facebook yang bunyinya begini: “bapak-bapak tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap..”.</p>
<p>Si bapak tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka.</p>
<p>Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka. Dalam pandangan saya bapak tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat.</p>
<p>Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si bapak tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.</p>
<p>Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si bapak tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si bapak tua. Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si bapak tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.</p>
<p>Oleh: Rinaldi Munir, Bandung.<br />
<a href="http://www.facebook.com/media/set/?set=a.285016851535266.58504.103134439723509&#038;type=3">SUMBER </a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pencintasedekah.com/2011/12/bapak-tua-penjual-amplop/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

