<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pencinta Sedekah</title>
	<atom:link href="http://www.pencintasedekah.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.pencintasedekah.com</link>
	<description>Berbagi terhadap sesama</description>
	<lastBuildDate>Mon, 20 Feb 2012 01:43:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1.2</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Pay It Forward</title>
		<link>http://www.pencintasedekah.com/2012/02/pay-it-forward/</link>
		<comments>http://www.pencintasedekah.com/2012/02/pay-it-forward/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Feb 2012 00:53:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Sedekah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pencintasedekah.com/?p=582</guid>
		<description><![CDATA[Ah, baru sadar udah lama banget nggak nulis disini.. Udah hampir 2 bulan Untung saja web ini tidak dipenuhi laba- laba Terus terang, selain kesibukan mencari nafkah, PS juga lagi fokus memperbanyak followers di twitter.. itu membutuhkan energi yang nggak sedikit ternyata. Kita harus konsisten ngetweet dan nyari bahan. Tapi harganya terbayar sudah. Dari tanggal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="https://www.addalinkofcharm.com/media/catalog/product/cache/1/image/265x265/17f82f742ffe127f42dca9de82fb58b1/p/a/pay_it_forward_3.jpg" alt="pay it forward" /></p>
<p>Ah, baru sadar udah lama banget nggak nulis disini.. Udah hampir 2 bulan</p>
<p>Untung saja web ini tidak dipenuhi laba- laba <img src='http://www.pencintasedekah.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Terus terang, selain kesibukan mencari nafkah, PS juga lagi fokus memperbanyak followers di twitter.. itu membutuhkan energi yang nggak sedikit ternyata.</p>
<p>Kita harus konsisten ngetweet dan nyari bahan.</p>
<p>Tapi harganya terbayar sudah. Dari tanggal 14 Desember sampai tanggal 14 Februari, Followers PS nambah dari 42.000 menjadi hampir 61.000.<span id="more-582"></span></p>
<p>Itu artinya hampir 50% followers nambah hanya dalam waktu 2 bulan! Belum lagi di <a href="http://facebook.com/pencintasedekah">Page FB PS</a>, udah sekitar 207.000 orang yang bergabung disana.</p>
<p>Ngomong&#8211;ngomong, segitu pentingnyakah jumlah followers?</p>
<p>Hmm.. anda pernah nonton film Pay It Forward? <img src='http://www.pencintasedekah.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Film keluarga menceritakan tentang bagaimana seorang anak berbuat baik, dan meminta balasannya kepada orang tersebut supaya berbuat kebaikan untuk minimal 3 (tiga) orang yang lain. Begitu terus menerus seperti gambar diatas.</p>
<p>Lalu, apa hubungannya dengan followers &#038; fans di FB? Tentu saja ada. Semakin banyak orang terlibat dalam sebuah kebaikan, tentu potensi kebaikan yang akan diciptakannya juga jauh lebih besar.</p>
<p>Misalnya. Dari 61.000 followers tadi PS membuat sebuah tweet :</p>
<p>&#8220;Yuk hari ini kita sedekah minimal masing2 kita Rp.100.000,- kepada orang terdekat yang membutuhkan&#8221;<br />
ada 10% dari followers yang baca tweet itu, berarti 6.100 orang<br />
ada 10% dari situ yang tertarik ikut berarti 610 orang<br />
ada 10% dari situ yang benar2 action memberikan, berarti akan ada 61 orang yang bersedekah pada saat itu<br />
akan ada 61 keluarga miskin yang dapat makan seharian pada saat itu.</p>
<p>Bayangkan.. Itulah kekuatan sebuah komunitas di social media</p>
<p>Sekarang, anda hanya akan mempergunakan twitter untuk ngetweet galau atau kebaikan?</p>
<p><em>Dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula) karena Allah akan memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (QS.9 :121 )</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pencintasedekah.com/2012/02/pay-it-forward/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Yang Kita Rayakan?</title>
		<link>http://www.pencintasedekah.com/2012/01/574/</link>
		<comments>http://www.pencintasedekah.com/2012/01/574/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Jan 2012 01:09:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Sedekah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pencintasedekah.com/?p=574</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah pesan broadcast masuk melalui BlackBerry Messenger PS ; Anakku, jangan marah jika bunda tidak membelikanmu TEROMPET karena itu ala YAHUDI Jangan sedih jika bunda tidak membelikanmu lonceng-loncengan karena itu ala orang NASHRANI. Jangan pula engkau murung karena bunda tidak belikan kembang api karena itu menyerupai MAJUSI dan janganlah kecewa jika bunda tidak membawamu di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.icis.com/blogs/icis-chemicals-confidential/files/2011/12/27/Happy%20New%20Year%202012.jpg" alt="ny" /></p>
<p>Sebuah pesan broadcast masuk melalui BlackBerry Messenger PS ;</p>
<p><em>Anakku, jangan marah jika bunda tidak membelikanmu TEROMPET karena itu ala YAHUDI<br />
Jangan sedih jika bunda tidak membelikanmu lonceng-loncengan karena itu ala orang NASHRANI.<br />
Jangan pula engkau murung karena bunda tidak belikan kembang api  karena itu menyerupai MAJUSI<br />
dan janganlah kecewa jika bunda tidak membawamu di keramaian tahun baru, karena itu hari-hari besar dan BERTASYABUH terhadap musuh-musuh Allah!!</em><span id="more-574"></span></p>
<p><em>Apakah engkau rela jika bunda dilemparkan ke dlm neraka, karena bunda tidak mendidikmu diatas ISLAM?</p>
<p>Banggalah wahai anakku, bersyukurlah wahai buah hatiku, karena ALLAH telah mentakdirkan kita hidup diatas agama ISLAM, agamanya seluruh para NABI DAN RASUL!</em></p>
<p><em>Berbahagialah wahai permataku! Di dalam KETERASINGAN kita akan tetap bertahan &#8230; Wallahul musta&#8217;an.</p>
<p>&#8220;Mari kita biasakan dikeluarga kita untuk lebih membanggakan Tahun Baru Islam, itupun tanpa perayaan apapun karena Rasulullah tidak pernah melakukannya.</em></p>
<p><strong>Sengaja pesan ini tidak saya ubah dan tetap ditampilkan dalam tulisan aslinya. </strong></p>
<p>Terlepas dari setuju atau tidaknya anda pada tulisan diatas, kemeriahan dan kehebohan menyambut pergantian tahun memang sudah menjadi &#8216;tradisi&#8217; di seluruh dunia termasuk di Indonesia.</p>
<p>Tapi apakah kita benar- benar tahu apa yang sesungguhnya sedang kita rayakan?</p>
<p>Bukankah sebuah pergantian tahun berarti menandakan 365 hari dari momen tahun sebelumnya telah kita lewati?<br />
Apa saja yang telah kita lakukan selama itu?<br />
Apakah sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain?<br />
Atau malah sepanjang tahun itu hanya merugikan dan menyusahkan orang lain?<br />
Atau yang lebih buruk ; Adanya atau tak adanya kita tidak memberi pengaruh apapun bagi orang sekitar kita.</p>
<p>Kalau sepanjang tahun ini tidak ada sesuatupun yang bisa kita banggakan, lalu untuk apa pesta pora, tiup terompet dan membakar petasan itu?</p>
<p>Bukankah lebih bagus pada pergantian tahun ini kita jadikan sebagai momentum perubahan menjadi pribadi yang lebih baik? </p>
<p>Tapi apapun itu, semua kembali kepada keputusan kita masing &#8211; masing <img src='http://www.pencintasedekah.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pencintasedekah.com/2012/01/574/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bapak Tua Penjual Amplop</title>
		<link>http://www.pencintasedekah.com/2011/12/bapak-tua-penjual-amplop/</link>
		<comments>http://www.pencintasedekah.com/2011/12/bapak-tua-penjual-amplop/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Dec 2011 10:52:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Sedekah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pencintasedekah.com/?p=570</guid>
		<description><![CDATA[Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat, saya selalu melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/s320x320/387937_285016938201924_103134439723509_702217_438393590_n.jpg" alt="img" /></p>
<p>Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat, saya selalu melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik.</p>
<p>Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya.</p>
<p>Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun bapak itu tetap menjual amplop.<span id="more-570"></span></p>
<p>Mungkin bapak itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat. Kehadiran bapak tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba.</p>
<p>Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran bapak tua itu. Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat bapak tua itu lagi sedang duduk terpekur.</p>
<p>Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu bapak itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri bapak tadi.</p>
<p>Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkusa plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya.</p>
<p>Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi bapak tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya. Bapak itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak.</p>
<p>Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak. Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu.</p>
<p>Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop.</p>
<p>Bapak itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500. “Bapak cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu.</p>
<p>Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si bapak tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, bapak tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan.</p>
<p>Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi. Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor.</p>
<p>Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat bapak tua itu untuk membeli makan siang. Si bapak tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata.</p>
<p>Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di facebook yang bunyinya begini: “bapak-bapak tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap..”.</p>
<p>Si bapak tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka.</p>
<p>Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka. Dalam pandangan saya bapak tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat.</p>
<p>Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si bapak tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.</p>
<p>Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si bapak tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si bapak tua. Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si bapak tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.</p>
<p>Oleh: Rinaldi Munir, Bandung.<br />
<a href="http://www.facebook.com/media/set/?set=a.285016851535266.58504.103134439723509&#038;type=3">SUMBER </a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pencintasedekah.com/2011/12/bapak-tua-penjual-amplop/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adzan Terakhir</title>
		<link>http://www.pencintasedekah.com/2011/12/adzan-terakhir/</link>
		<comments>http://www.pencintasedekah.com/2011/12/adzan-terakhir/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Dec 2011 12:43:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Sedekah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pencintasedekah.com/?p=566</guid>
		<description><![CDATA[Sore itu dalam sebuah acara, ketika peserta sedang serius menyimak materi yang disampaikan seorang pembicara, tiba- tiba suara adzan ashar dari BlackBerry sang pembicara berbunyi dengan merdu. Pembicara itu berhenti memberikan materinya dan berkata &#8220;Saudaraku sekalian, marilah sejenak kita berhenti dan menikmati suara adzan ini. Kita tidak tau apakah ini suara adzan terakhir yang kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/11/13214762741155659707_300x300.jpg" alt="adzan" /></p>
<p>Sore itu dalam sebuah acara, ketika peserta sedang serius menyimak materi yang disampaikan seorang pembicara, tiba- tiba suara adzan ashar dari BlackBerry sang pembicara berbunyi dengan merdu.</p>
<p>Pembicara itu berhenti memberikan materinya dan berkata</p>
<p>&#8220;Saudaraku sekalian, marilah sejenak kita berhenti dan menikmati suara adzan ini. Kita tidak tau apakah ini suara adzan terakhir yang kita dengar di dunia&#8221; katanya dengan lembut.</p>
<p>Para peserta acara terlihat tertegun tidak menduga dengan apa yang disampaikan pembicara ini. Jarang- jarang ada dalam acara &#8220;seserius&#8221; itu pembicara mengajak peserta untuk &#8220;menikmati&#8221; adzan. Sejenak ruangan hening, hanya ada suara adzan yang mengalun syahdu dan lembut, menembus relung &#8211; relung hati setiap peserta dalam ruangan itu.</p>
<p>Air mata menggenang di pelupuk mata saya&#8230; Membayangkan apabila itu memang adzan terakhir yang saya dengar di dunia ini, betapa beruntungnya saya saat itu.. Beruntung karena selama ini menjadika suara adzan hanya sebagai &#8220;penanda&#8221; bahwa waktu sholat telah masuk dan kita &#8220;menunaikan&#8221; kewajiban saja.</p>
<p>Sungguh, mulai saat itu, saya berusaha untuk menikmati suara adzan yang saya dengar..</p>
<p>Karena mungkin saja itu menjadi adzan terakhir yang saya dengar</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pencintasedekah.com/2011/12/adzan-terakhir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Arti Sebuah Kesuksesan</title>
		<link>http://www.pencintasedekah.com/2011/11/arti-sebuah-kesuksesan/</link>
		<comments>http://www.pencintasedekah.com/2011/11/arti-sebuah-kesuksesan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Nov 2011 23:53:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Sedekah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pencintasedekah.com/?p=562</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Assalammualaikum. Pemberitahuan, pak xxxxxxx perampas emas istrinya sendiri sebesar 200 gram,dari jerih payah istrinya sendiri,tanpa rasa malu.&#8221; Jegerr&#8230; Sebuah sms dari teman mengejutkan kami yang membacanya. Betapa tidak, yg mengirimkan sms itu adalah isteri dari pak xxxxxxx sendiri. Belum habis rasa kaget kami, masuk lagi sms dari orang yang sama : &#8220;maaf, saya gak sengaja, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.missdaisy.me/Images/succes%20man.jpg" alt="succes" /></p>
<p>&#8220;Assalammualaikum. Pemberitahuan, pak xxxxxxx perampas emas istrinya sendiri sebesar 200 gram,dari jerih payah istrinya sendiri,tanpa rasa malu.&#8221;</p>
<p>Jegerr&#8230; Sebuah sms dari teman mengejutkan kami yang membacanya. Betapa tidak, yg mengirimkan sms itu adalah isteri dari pak xxxxxxx sendiri.</p>
<p>Belum habis rasa kaget kami, masuk lagi sms dari orang yang sama :<span id="more-562"></span></p>
<p>&#8220;maaf, saya gak sengaja, cuma mengutarakan kekesalan yg terpendam.</p>
<p>Saya cuma ingin semua teman2nya tau pak xxxxxxx itu hanya sukses di bisnis, tapi rumahtangganya hancur berantakan, jauh dari sukses&#8221;</p>
<p>Bukan sama kamu aja kakak sms masalah emas tadi. Pak xxxxxxx selalu bicara di radio, seminar2 kalau dia seorang yg sukses. Di bisnis iya sukses, di dalam rumah tangga, nol!</p>
<p>Mulutnya oke kalau bicara soal bisnis,tapi kalau sebagai kepala rumah tangga bukan seorang imam yg baik.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Ini benar-benar kejadian nyata. Tulisan ini bukanlah sebuah rekayasa. Bahkan kami sangat kenal dengan pak xxxxxxx dan isterinya itu.</p>
<p>Menjadi sebuah renungan dan pembelajaran berharga, bahwa ketika kita ingin dipandang sebagai orang yang sukses, bisnis menggurita dan orang lain memuji, ternyata isteri di rumah sendiri merasakan hal sebaliknya.</p>
<p>Guru saya @KataJURAGAN ( Jaya Setiabudi ) pernah menjawab ketika saya tanya apa ukuran sukses menurut dia. Dg santai dia menjawab ; &#8216;sukses saya adalah ketika keluarga saya mengakui bahwa saya memang sudah sukses&#8217;</p>
<p>Sederhana tapi mengena.</p>
<p>Percuma &#8216;kan kalau kita dianggap sukses oleh orang lain tapi isteri sendiri menganggap sebaliknya?</p>
<p>Pertemuan saya dengan seorang guru : @noveldy juga membuka mata hati saya bahwa keluarga-lah patokan utama kesuksesan kita.</p>
<p>Berapa banyak kita menginvestasikan uang untuk seminar &#038; workshop bisnis dan motivasi? Lalu berapa banyak yang kita investasikan untuk seminar &#038; worshop tentang rumah tangga dan keluarga?</p>
<p>Semoga tulisan ini memberi hikmah bagi kita semua yang membacanya</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pencintasedekah.com/2011/11/arti-sebuah-kesuksesan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Arti Sebuah Pengorbanan</title>
		<link>http://www.pencintasedekah.com/2011/10/arti-sebuah-pengorbanan/</link>
		<comments>http://www.pencintasedekah.com/2011/10/arti-sebuah-pengorbanan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Oct 2011 23:32:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Sedekah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pencintasedekah.com/?p=555</guid>
		<description><![CDATA[Setiap tahun berulang- ulang ketika datang hari raya Idul Adha, di masjid- masjid, di televisi kita mendengar dan menyimak kisah yang sangat akrab tentang arti sebuah pengorbanan. Kisah Nabi Ibrahim yang mematuhi perintah Tuhan mengorbankan anaknya Ismail melalui mimpi 3x berturut-turut. Kira-kira kisahnya seperti berikut : Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://4.bp.blogspot.com/-IMDhKnbc_SY/TkjzJzuoaWI/AAAAAAAAD88/v4992HUvUds/s1600/107861.gif" alt="Ibrahim" /></p>
<p>Setiap tahun berulang- ulang ketika datang hari raya Idul Adha, di masjid- masjid, di televisi kita mendengar dan menyimak kisah yang sangat akrab tentang arti sebuah pengorbanan. Kisah Nabi Ibrahim yang mematuhi perintah Tuhan mengorbankan anaknya Ismail melalui mimpi 3x berturut-turut. Kira-kira kisahnya seperti berikut :</p>
<p><em>Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: &#8220;Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!&#8221;<span id="more-555"></span></p>
<p>Ia menjawab: &#8220;Hai bapakku, <strong>kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu</strong>; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk <strong>orang-orang yang sabar</strong>.&#8221;</p>
<p>Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), nyatalah kesabaran keduanya</p>
<p>Dan Kami panggillah dia: &#8220;Hai Ibrahim, <strong>sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu</strong> sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik&#8221;.</p>
<p>Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. </p>
<p>Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar</p>
<p>Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (QS.37: 102-108)<br />
</em></p>
<p>Kita semua terkagum- kagum bagaimana Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail berhasil melewati ujian terberat itu. Tapi kita juga sering lupa bahwa kisah ini adalah spirit sebenarnya dari pengorbanan dan keikhlasan.</p>
<p>Ikhlas berarti rela melepaskan keterikatan dan kemelekatan kita akan sebuah benda keduniawian. Bukan malah sebaliknya, ikhlas selalu kita identikkan dengan kata kecil dan sedikit. Ingin bukti? Lengkapi kalimat ini. Biar&#8230;&#8230;&#8230; asal ikhlas.! Hehehe</p>
<p>Lihat contoh lain :</p>
<p>1. Ketika dua putera Nabi Adam diperintahkan Allah mempersembahkan hasil ternak &#038; Hasil kebunnya, Habil memberikan yang terbaik? Sebaliknya Qabil memberikan ternak kurus dan buah-buahan busuk? Siapa yang ikhlas dalam pandangan Allah?</p>
<p>2. Ketika khalifah Ali membawa pulang buah delima kesukaan isterinya, di perjalanan dia malah memberikan kepada orangtua yang sedang kelaparan</p>
<p>3. Banyak kisah lain Nabi dan sahabat yang mengutamakan bersedekah dengan besar dan ikhlas.</p>
<p>Oke, lalu apa kaitannya dengan Idul Adha, Kurban dan Nabi Ibrahim? </p>
<p>Begini : Ketika Nabi Ibrahim mampu mematuhi perintah Tuhan, apakah kita mampu mengikuti jejaknya dengan berkurban setiap tahun mulai hari ini?</p>
<p>Bukankah ketika kita sangat ingin sebuah gadget kita akan &#8220;memaksakan diri&#8221; untuk membelinya? Bahkan langganan layanan BlackBerry kita setiap bulan udah seharga 1 ekor kambing setiap Idul Adha.</p>
<p>Mulut kita berkata ingin mengikuti jejak keikhlasan Nabi Ibrahim, tapi perbuatan kita mengatakan sebaliknya.</p>
<p>Jadi, apakah kita berani &#8220;menyembelih&#8221; gadget yang kita cintai dan berkurban di tahun ini? Beranikah kita berkurban minimal 1 ekor kambing tahun ini? Maukah anda melangkah ke ATM, mengambil uangnya dan menyerahkan ke panitia kurban di masjid dekat rumah?</p>
<p>Apakah kita masih akan menyiapkan segudang alasan untuk tidak berkurban? Apakah kita tidak malu dengan Nabi Ibrahim? <img src='http://www.pencintasedekah.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pencintasedekah.com/2011/10/arti-sebuah-pengorbanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

