
Sebuah pesan broadcast masuk melalui BlackBerry Messenger PS ;
Anakku, jangan marah jika bunda tidak membelikanmu TEROMPET karena itu ala YAHUDI
Jangan sedih jika bunda tidak membelikanmu lonceng-loncengan karena itu ala orang NASHRANI.
Jangan pula engkau murung karena bunda tidak belikan kembang api karena itu menyerupai MAJUSI
dan janganlah kecewa jika bunda tidak membawamu di keramaian tahun baru, karena itu hari-hari besar dan BERTASYABUH terhadap musuh-musuh Allah!!
Apakah engkau rela jika bunda dilemparkan ke dlm neraka, karena bunda tidak mendidikmu diatas ISLAM?
Banggalah wahai anakku, bersyukurlah wahai buah hatiku, karena ALLAH telah mentakdirkan kita hidup diatas agama ISLAM, agamanya seluruh para NABI DAN RASUL!
Berbahagialah wahai permataku! Di dalam KETERASINGAN kita akan tetap bertahan … Wallahul musta’an.
“Mari kita biasakan dikeluarga kita untuk lebih membanggakan Tahun Baru Islam, itupun tanpa perayaan apapun karena Rasulullah tidak pernah melakukannya.
Sengaja pesan ini tidak saya ubah dan tetap ditampilkan dalam tulisan aslinya.
Terlepas dari setuju atau tidaknya anda pada tulisan diatas, kemeriahan dan kehebohan menyambut pergantian tahun memang sudah menjadi ‘tradisi’ di seluruh dunia termasuk di Indonesia.
Tapi apakah kita benar- benar tahu apa yang sesungguhnya sedang kita rayakan?
Bukankah sebuah pergantian tahun berarti menandakan 365 hari dari momen tahun sebelumnya telah kita lewati?
Apa saja yang telah kita lakukan selama itu?
Apakah sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain?
Atau malah sepanjang tahun itu hanya merugikan dan menyusahkan orang lain?
Atau yang lebih buruk ; Adanya atau tak adanya kita tidak memberi pengaruh apapun bagi orang sekitar kita.
Kalau sepanjang tahun ini tidak ada sesuatupun yang bisa kita banggakan, lalu untuk apa pesta pora, tiup terompet dan membakar petasan itu?
Bukankah lebih bagus pada pergantian tahun ini kita jadikan sebagai momentum perubahan menjadi pribadi yang lebih baik?
Tapi apapun itu, semua kembali kepada keputusan kita masing – masing





