
Sore itu dalam sebuah acara, ketika peserta sedang serius menyimak materi yang disampaikan seorang pembicara, tiba- tiba suara adzan ashar dari BlackBerry sang pembicara berbunyi dengan merdu.
Pembicara itu berhenti memberikan materinya dan berkata
“Saudaraku sekalian, marilah sejenak kita berhenti dan menikmati suara adzan ini. Kita tidak tau apakah ini suara adzan terakhir yang kita dengar di dunia” katanya dengan lembut.
Para peserta acara terlihat tertegun tidak menduga dengan apa yang disampaikan pembicara ini. Jarang- jarang ada dalam acara “seserius” itu pembicara mengajak peserta untuk “menikmati” adzan. Sejenak ruangan hening, hanya ada suara adzan yang mengalun syahdu dan lembut, menembus relung – relung hati setiap peserta dalam ruangan itu.
Air mata menggenang di pelupuk mata saya… Membayangkan apabila itu memang adzan terakhir yang saya dengar di dunia ini, betapa beruntungnya saya saat itu.. Beruntung karena selama ini menjadika suara adzan hanya sebagai “penanda” bahwa waktu sholat telah masuk dan kita “menunaikan” kewajiban saja.
Sungguh, mulai saat itu, saya berusaha untuk menikmati suara adzan yang saya dengar..
Karena mungkin saja itu menjadi adzan terakhir yang saya dengar





