Archive for December 2011

Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat, saya selalu melihat seorang bapak tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik.
Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya.
Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun bapak itu tetap menjual amplop. Baca Selengkapnya »

Sore itu dalam sebuah acara, ketika peserta sedang serius menyimak materi yang disampaikan seorang pembicara, tiba- tiba suara adzan ashar dari BlackBerry sang pembicara berbunyi dengan merdu.
Pembicara itu berhenti memberikan materinya dan berkata
“Saudaraku sekalian, marilah sejenak kita berhenti dan menikmati suara adzan ini. Kita tidak tau apakah ini suara adzan terakhir yang kita dengar di dunia” katanya dengan lembut.
Para peserta acara terlihat tertegun tidak menduga dengan apa yang disampaikan pembicara ini. Jarang- jarang ada dalam acara “seserius” itu pembicara mengajak peserta untuk “menikmati” adzan. Sejenak ruangan hening, hanya ada suara adzan yang mengalun syahdu dan lembut, menembus relung – relung hati setiap peserta dalam ruangan itu.
Air mata menggenang di pelupuk mata saya… Membayangkan apabila itu memang adzan terakhir yang saya dengar di dunia ini, betapa beruntungnya saya saat itu.. Beruntung karena selama ini menjadika suara adzan hanya sebagai “penanda” bahwa waktu sholat telah masuk dan kita “menunaikan” kewajiban saja.
Sungguh, mulai saat itu, saya berusaha untuk menikmati suara adzan yang saya dengar..
Karena mungkin saja itu menjadi adzan terakhir yang saya dengar





