
“Assalammualaikum. Pemberitahuan, pak xxxxxxx perampas emas istrinya sendiri sebesar 200 gram,dari jerih payah istrinya sendiri,tanpa rasa malu.”
Jegerr… Sebuah sms dari teman mengejutkan kami yang membacanya. Betapa tidak, yg mengirimkan sms itu adalah isteri dari pak xxxxxxx sendiri.
Belum habis rasa kaget kami, masuk lagi sms dari orang yang sama :
“maaf, saya gak sengaja, cuma mengutarakan kekesalan yg terpendam.
Saya cuma ingin semua teman2nya tau pak xxxxxxx itu hanya sukses di bisnis, tapi rumahtangganya hancur berantakan, jauh dari sukses”
Bukan sama kamu aja kakak sms masalah emas tadi. Pak xxxxxxx selalu bicara di radio, seminar2 kalau dia seorang yg sukses. Di bisnis iya sukses, di dalam rumah tangga, nol!
Mulutnya oke kalau bicara soal bisnis,tapi kalau sebagai kepala rumah tangga bukan seorang imam yg baik.
—
Ini benar-benar kejadian nyata. Tulisan ini bukanlah sebuah rekayasa. Bahkan kami sangat kenal dengan pak xxxxxxx dan isterinya itu.
Menjadi sebuah renungan dan pembelajaran berharga, bahwa ketika kita ingin dipandang sebagai orang yang sukses, bisnis menggurita dan orang lain memuji, ternyata isteri di rumah sendiri merasakan hal sebaliknya.
Guru saya @KataJURAGAN ( Jaya Setiabudi ) pernah menjawab ketika saya tanya apa ukuran sukses menurut dia. Dg santai dia menjawab ; ‘sukses saya adalah ketika keluarga saya mengakui bahwa saya memang sudah sukses’
Sederhana tapi mengena.
Percuma ‘kan kalau kita dianggap sukses oleh orang lain tapi isteri sendiri menganggap sebaliknya?
Pertemuan saya dengan seorang guru : @noveldy juga membuka mata hati saya bahwa keluarga-lah patokan utama kesuksesan kita.
Berapa banyak kita menginvestasikan uang untuk seminar & workshop bisnis dan motivasi? Lalu berapa banyak yang kita investasikan untuk seminar & worshop tentang rumah tangga dan keluarga?
Semoga tulisan ini memberi hikmah bagi kita semua yang membacanya






