
Pukul 2 dini hari ini, sebuah BBM masuk dari seorang teman PS. Isinya singkat ; “Bro, Hen meninggal”. PS terkejut dan terdiam cukup lama dan kemudian membalas dg kalimat “innalillahi….”.
Betapa tidak terkejut, teman yang meninggal ini selain masih muda, berpostur tubuh tegap juga bisnisnya sedang berkembang dengan cepat.
- Ketika Steve Jobs, CEO Apple meninggal, kita masih berpikir ; “Ah, usianya sudah lumayan tua. Lagipula menderita kanker pankreas. Ada “alasan kematiannya”
- Ketika penderita sebuah penyakit parah meninggal, juga ada “alasan kematian” mereka yang membuat kita tidak cukup terkejut.
Tapi ketika seseorang yang kelihatannya tidak punya “alasan” yang cukup besar untuk meninggal, itu sangat menghentak dan menyalakan alarm buat kita yang masih hidup.
Gampang kita berkata ; “usia kan di tangan Tuhan, semua yang bernyawa pasti meninggal”
Iya, justru disitulah bagian paling menakutkannya. Ketika usia itu menjadi sebuah misteri bagi kita yang hidup.
Teman saya yang lain mengibaratkan kematian itu seperti duduk menunggu antrian di Bank. Bedanya, kalau antri di Bank, kita tau kita panggilan ke berapa, sedangkan kematian tidak. Hanya ada tulisan “next” di kertas nomer antrian.
Lagipula, kita tidak akan pernah tau dalam keadaan seperti apa kita dijemput “pulang” nanti.
- Apakah meninggal ketika tidur
- Kecelakaan
- Sakit Jantung
- Dibunuh
- dll
Ketika dijemput, semuanya langsung STOP. Kita benar- benar minggalkan semua apa yang kita kerjakan. Suka tidak suka, mau tidak mau. Entah itu berupa
- Proyek yang sedang kita kerjakan
- Bisnis yang sedang kita bangun
- Pasangan yang masih cantik / tampan
- Anak yang masih lucu
Pokoknya semua. dan tiba – tiba kita akan dihadapkan ke hadapan Tuhan untuk melaporkan semua kegiatan kita selama hidup di Bumi-Nya.
Lalu, ketika “NEXT” itu ternyata adalah kita, siapkah kita?
–
Tulisan PS tentang kematian lainnya bisa dibaca DISINI






